Kita pasti pernah mengalami kecemasan. Bahkan hampir setiap hari kita mengalaminya. Tapi apakah anda sudah tahu arti dari kecemasan itu sendiri?
Dalam ilmu psikologi, ada yang menjelaskan bahwa kecemasan merupakan ketakutan yang tidak realistis. Suatu perasaan terancam ketika merespon sesuatu yang sebenarnya tidak sungguh - sungguh mengancam. Menurut Calhoun & Acocella (1990), kecemasan merupakan suatu perasaan takut (realistis / bukan) disertai peningkatan gejolak fisiologis. Berikut ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengelola kecemasan agar Anda tidak terjebak dalam perasaan cemas yang berlebih :
PERENCANAAN LINGKUNGAN
Contohnya, bila kita takut kecoak, kita dapat menghindarinya di rumah dengan cara membasminya. Di luar rumah, kita dapat menghindari kecoak dengan sebisanya menghindari tempat - tempat yang berpotensi menjadi sarang kecoak. Namun, tidak semua stimulus yang membuat cemas dapat kita hindari begitu saja. Contohnya, kecemasan tinggi yang terjadi setiap kali mau ujian. Berbahaya bila kita atasi dengan menghindari ujian. Untuk itu kita perlu mengatur agar kecemasan sewaktu ujian dapat berkurang dengan cara belajar sampai tuntas.
RELABELING DAN SELFTALK
Bila kita tidak dapat menghindari stimulus yang membuat kita cemas, cara lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi pemicu internal, yakni di dalam diri kita sendiri. Contohnya, bila kita selalu cemas saat menghadapi ujian, mungkin itu karena kita dalam hati berpikir tentang kemungkinan gagal. Oleh sebab itu, kita perlu mengganti dengan keyakinan dan perkataan positif terhadap diri sendiri.
DESENSITISASI
Desensitisasi terdiri dari 2 langkah. Pertama, rileksasi dilakukan dengan cara melemaskan seluruh otot tubuh, mulai dari kepala hingga ujung kaki. Jangan lupa untuk menarik napas panjang sebelum melakukan rileksasi. Kedua, mulai berlatih menghadapi stimulus yang membuat kita cemas. Kombinasi relaksasi dan latihan menghadapi stimulus ini dilakukan hingga seseorang benar - benar tidak lagi cemas menghadapi stimulus itu apa adanya.
Dalam ilmu psikologi, ada yang menjelaskan bahwa kecemasan merupakan ketakutan yang tidak realistis. Suatu perasaan terancam ketika merespon sesuatu yang sebenarnya tidak sungguh - sungguh mengancam. Menurut Calhoun & Acocella (1990), kecemasan merupakan suatu perasaan takut (realistis / bukan) disertai peningkatan gejolak fisiologis. Berikut ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengelola kecemasan agar Anda tidak terjebak dalam perasaan cemas yang berlebih :
PERENCANAAN LINGKUNGAN
Contohnya, bila kita takut kecoak, kita dapat menghindarinya di rumah dengan cara membasminya. Di luar rumah, kita dapat menghindari kecoak dengan sebisanya menghindari tempat - tempat yang berpotensi menjadi sarang kecoak. Namun, tidak semua stimulus yang membuat cemas dapat kita hindari begitu saja. Contohnya, kecemasan tinggi yang terjadi setiap kali mau ujian. Berbahaya bila kita atasi dengan menghindari ujian. Untuk itu kita perlu mengatur agar kecemasan sewaktu ujian dapat berkurang dengan cara belajar sampai tuntas.
RELABELING DAN SELFTALK
Bila kita tidak dapat menghindari stimulus yang membuat kita cemas, cara lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi pemicu internal, yakni di dalam diri kita sendiri. Contohnya, bila kita selalu cemas saat menghadapi ujian, mungkin itu karena kita dalam hati berpikir tentang kemungkinan gagal. Oleh sebab itu, kita perlu mengganti dengan keyakinan dan perkataan positif terhadap diri sendiri.
DESENSITISASI
Desensitisasi terdiri dari 2 langkah. Pertama, rileksasi dilakukan dengan cara melemaskan seluruh otot tubuh, mulai dari kepala hingga ujung kaki. Jangan lupa untuk menarik napas panjang sebelum melakukan rileksasi. Kedua, mulai berlatih menghadapi stimulus yang membuat kita cemas. Kombinasi relaksasi dan latihan menghadapi stimulus ini dilakukan hingga seseorang benar - benar tidak lagi cemas menghadapi stimulus itu apa adanya.


